Minggu, 25 Desember 2011

Pemanfaatan Urine Manusia Menjadi Pupuk Organik Cair

Selama ini terkadang kita merasa malas atau enggan untuk memanfaatkan sesuatu yang dirasa menjijikan atau bahkan termasuk najis menurut agama. Nah salah satu diantaranya adalah urine, yang merupakan jenis zat cair yang berasal dari diri kita sendiri atau urine manusia. Zat cair ini bisa kita olah menjadi suatu zat organik berupa pupuk cair dan sangat berguna sekali untuk kesuburan tanaman, baik itu padi atau pun yang lainnya. Lalu bagaimana pengolahannya? Di Purworejo sendiri ada sebuah kelompok tani yang sudah meneliti sekaligus memanfaatkan urine manusia untuk kebutuhan pupuk organik. Informasi ini saya ambil dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Purworejo.

MEMANFAATKAN URINE MANUSIA UNTUK MEMBUAT PUPUK ORGANIK CAIR

Kelompok tani tanaman pangan Ngudi Makmur Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi, mengandalkan pupuk organic buatan sendiri untuk memupuk tanaman padi. Pupuk organik yang terbuat dari komposisi urine (air seni) manusia itu, terbukti menyuburkan tanaman sehingga menghasilkan produk padi yang lebih banyak. Menurut salah seorang pengurus kelompok tani Ngudi Makmur Purwo Budiyanto, pupuk organik ini merupakan komposisi dari berbagai bahan alami dengan proses pembuatan yang sangat mudah. Bahan yang dibutuhkan hanya 5 liter urine manusia, 600 gram susu putih cair kalengan, 250 gram kunyit, 1 ikat daun orok-orok beserta akarnya, dan 5 sendok teh micin (penyedap rasa untuk masakan). Cara pembuatannya juga relatif mudah. Kunyit diparut dan disaring untuk diambil airnya, sedangkan daun-orok-orok beserta akarnya ditumbuk diambil airnya. Air kunyit dan air daun orok-orok dicampur dengan urine, susu cair, dan micin. Campuran bahan tersebut diaduk hingga rata, lalu direndam selama I minggu (7 hari).
Selama perendaman harus ditutup rapat dan disimpan ditempat sejuk. Realisasi pupuk cair itu menjadi seberat 500 cc dengan warna hitam kecoklatan. Sedangkan aplikasinya, setiap 250 cc dicampur 14 liter air. Kemudian disemprotkan ke daun tanaman padi. Lebih efektif ke daun bukan ke tanahnya, karena memang sasaran pupuk ini untuk daunnya, ujar Purwo yang didampingi Kasemo dan Pardi. Penyemprotan dilakukan pada tanaman umur 7-10 hari, dengan volume penyemprotan sebanyak 4 kali. Jarak penyemprotan pertama dan seterusnya antara 5s/d 7 hari. Penyemprotan juga boleh dilakukan selama malai padi belum keluar. Tetapi kalau tanaman padi sudah mulai berbuah (mratak), jangan melakukan penyemprotan. Sebab akan mengganggu proses pembuahan tanaman padi, akibatnya padi lebih mudah rontok, kata Purwo.
Pupuk organik ciptaan sendiri ini, telah diterapkan pada lahan sawah seluas 2000 meter persegi milik kelompok tani Ngudi Makmur di Desa Keduren Kecamatan Purwodadi. Kebutuhan pupuknya 500 cc kali 4 penyemprotan, sehingga totalnya 2000 cc pupuk organik cair. Hasilnya sangat bagus dibanding tanaman di sebelahnya yang tidak menggunakan pupuk ini. Selain hasil tanamannya lebih bagus, dari segi biaya produksinya juga sangat hemat. Kelebihan pada tanamannya antara lain daun lebih hijau, pertumbuhan batang padi lebih panjang, malai lebih panjang, menambah peranakan padi, dan tanaman terlihat lebih kekar, serta buahnya lebih banyak. Bau yang ditimbulkan pupuk ini sangat menyengat, sehingga hama tidak mau mendekati tanaman.
Kelompok tani Ngudi Makmur yang beranggotakan 36 orang itu, sengaja tidak merahasiakan cara pembuatan pupuk organik hasil ciptaanya sendiri, justru sebaliknya pembuatan pupuk ini agar bisa diketahui siapa saja yang membutuhkan. Kami lebih mengutamakan pada sisi kesehatan yang dicanangkan pemerintah tentang go organik. Sehingga pembuatan pupuk organik ini, tidak hanya untuk kelompok tani kami saja tetapi untuk bisa diterapkan kepada petani yang lain,katanya. Kelompok tani ini juga memiliki keyakinan tentang persahabatan dengan alam. Yakni alam sahabat manusia yang senantiasa mendukung manusia, tentu kita sebagai manusia harus bersahabat kembali dengan alam. Caranya melestarikan lingkungan dan memanfaatkan potensi lingkungan untuk dibudidayakan pupuk organik, sehingga bias kembali ke alami.
Selain membuat pupuk organik kelompok tani Ngudi Makmur juga membuat penangkaran benih padi unggulan jenis baru. Yakni benih padi varietas ciboga dan benih padi varietas mekongga. Masing-masing benih dipasarkan dengan harga murah yaitu Rp 25 ribu per-sak ukuran 5 kg.

Sumber: Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Purworejo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar